Oleh: kalutnews | 22 Juli 2012

BIOGAS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF1)

Beberapa minggu terakhir ini protes mengenai rencana Pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hampir tiap hari kita baca di media cetak dan kita lihat di media elektronik, sungguh ironis yang katanya Indonesia merupakan Negara penghasil Minyak dan gas (MIGAS) tetapi harus mengimpor BBM dari Negara lain,

Pada tanggal 02 April 2012 Wakil Menteri ESDM BapakWijajono Partowidagdo dalam acara di salah satu TV Swasta Nasional mengatakan bahwa tarif PLN dengan BBM akan lebih mahal disbanding dengan bahan bakar dari batubara, dalam penryataannya tersebut kalau PLN bahan bakar dengan BBM biaya per KWH sekitar Rp. 3.000,-sedangkan kalau dengan batu baranya Rp. 800,-/KWH, bayangkan seandainya di daerah sampai di pusat PLN kita ini menggunakan bahan bakar batubara, berapa besar efisiensinya dan tidak perlu lagi mengimpor BBM untukbahanbakar PLN.

Rakyat juga tidak terbebani dengan tariff listrik yang tiap bulan dibayar terlalu tinggi, dengan asumsi tersebut diatas pelanggan PLN paling tidak hanya membayar per KWH 1/3 dan maksimal ½ dari tariff saat ini.

Belum lagi masyarakat dibebani dengan harga premium eceran yang tinggi terutama di daerah utara Kaltim dengan hargaRp. 8.000,- s/d 15.000,-/liter yang berimbas pada tingginya harga sembilan bahan pokok (sembako). Kenapa pemerintah belum mengoptimalkan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar PLN?

Departemen Pertanian melalui Dinas-Dinas terkait di daerah sudah lama membuat terobosan untuk pemanfaatan tenaga alternatif dari bahan organic khususnya biomassa, seperti kotoran ternak dan limbah pertanian/perkebunan.

Pada beberapa tahun terakhir istilah Biogas memang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat kita. Telah banyak terobosan teknologi tepat guna yang diciptakan baik kalangan insiyur, akademisi maupun masyarakat umum untuk pemanfaatan salah satu energi alternatif terbarukan ini. Bahkan sebagian masyarakat pedesaan di beberapa propinsi, terutama para peternak sapi telah menggunakan teknologi ramah lingkungan ini sebagai pemenuhan kebutuhan bahan bakar sehari-hari. Dengan kata lain, mereka telah berhasil mencapai swadaya energi dengan tidak lagi menggunakan minyak tanah untuk memasak, bahkan juga untuk penerangan dan listrik untuk barang-barang elektronik seperti Televisi, radio dan sebagainya dan limbah cair dari sisa hasil biogas tersebut juga bisa langsung digunakan sebagai pupuk untuk tanaman.

Salah satucontoh di UPT 3 Sesayap (Trans Kujau) Kabupaten Tana Tidung salah satu anggota kelompok tani sudah menggunakan energial ternatif Biogas sejak Januari 2012, menurut petani tersebut (BapakDaerobi) dengan adanya Biogas ini dia tidak lagi mencari minyak tanah yang sudah susah harganya juga mahal saat ini juga sudah bisa menikmati penerangan bahkan menonton TV tiap hari dengan listrik dari BIOGAS.

Dengan 8 ekorsapi yang dia pelihara sudah bisa menyalakan genset biogas selama 5 jam tiap hari apabila dalam kondisi cuaca yang stabil dan bisa memasak dengan kompor biogas tanpa ada batasan waktu. Dengan kata lain sudah bisa swadaya energi/mandiri energi, menurutnya (BapakDaerobi) pemerintah melalui Dinas terkait harus bisa mengembangkan Biogas ini di lokasi lain yang sudah memenuhi syarat tentunya sapi yang dipelihara harus dikandangkan. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tana Tidung yang telah member bantuan percontohan Biogas dengan sistim floating dan berharap kedepan UPT 3 Sesayap dapat dijadikan sebagai Desa Mandiri Energi.

Dari contoh tersebut diatas sudah seharusnya Pemerintah melalui SKPD terkait (Pertanian, ESDM, Lingkungan Hidup dan Instansi terkait lainnya)  untuk mendukung pengembangan Biogas sebagai energy alternatif dan pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar PLN yang notabene di Kaltim ini produksi batubara melimpah.

Upaya untuk meningkatkan pemanfaatan biogas dari bahan organik khususnya biomassa, seperti kotoran ternak dan limbah pertanian/perkebunan perlu dilakukan dengan empat pertimbangan sebagai berikut:

  1. Ketersediaan bahan bakar minyak terbatas, para ahli memperkirakan produksi minyak dunia akan mencapai puncaknya antara tahun 2015 s.d. 2030 setelah itu akan mengalami penurunan produksi minyak. Produksi gas alam dunia diperkirakan akan mencapai puncaknya antara tahun 2020 s.d. 2050. Situasi produksi minyak di Indonesia lebih memprihatinkan lagi, sejak tahun 1995 produksi minyak nasional terus merosot.
  2. Isu pemanasan global sebagai akibat dari meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca utamanya gas karbondioksida dari emisi kendaraan dan gas buang pabrik. Selain karbondioksida, gas metana hasil fermentasi bahan-bahan organik ternyata memberikan andil cukup besar dalam pemanasan global. Berdasarkan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) diketahui secara molekuler efek rumah kaca metana 20 kali lebih kuat daripada karbondioksida. Situasinya sekarang, konsentrasi gas metana terus meningkat dari tahun ke tahun. Sumber gas metana 60% berasal dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh manusia seperti eksploitasi bahan bakar fosil, aktivitas peternakan, pertanian, pembakaran biomassa dan sampah organik rumah tangga. Sisanya berasal dari sumber-sumber alamiah, contohnya pembusukan bahan-bahan organik di rawa-rawa, danau, sungai. Dengan pemakaian biogas sebagai bahan bakar berarti mengonversi metana menjadi karbondioksida yang lebih rendah efeknya terhadap pemanasan global. Secara teoritis dampak pemanasan global berkurang sebesar 87% dengan pembakaran gas metana.
  3. Kebutuhan petani terhadap pupuk organik semakin meningkat seiring dengan sadarnya petani dengan berbagai keunggulan pupuk organik. Peluang ini haruslah ditangkap dengan membuat petani mandiri dalam memproduksi pupuk organik dari biomassa hasil fermentasi anaerob dalam reaktor biogas. Biomassa setelah mengalami proses fermentasi anaerob dalam produksi biogas telah “matang” dan siap digunakan sebagai pupuk organik. Kandungan rata-rata nutrien dalam kotoran ternak hasil fermentasi anaerob untuk nitrogen, pospor (P2O5), dan kalium (K2O) masing-masing adalah 1,60 %; 1,55 %; dan 1,00% (FAO,1996). Kandungan nutrien tanaman hasil fermentasi anaerob lebih tinggi 50-100% daripada pengomposan secara aerob. Selain itu, fermentasi anaerob juga akan mematikan benih-benih gulma dan penyakit yang ada dalam kotoran ternak atau biomassa lainnya. Penggunaan pupuk organik dan pupuk sintetis dengan takaran yang tepat akan melipatgandakan hasil pertanian.
  4. Sistem fermentasi anaerob merupakan sistem tertutup dan bertemperatur pada rentang 25 – 37 oC. Dengan sistem demikian sanitasi lingkungan akan tercipta lebih baik dan bakteri patogen yang ada di dalam kotoran akan jauh berkurang. Biomassa hasil fermentasi anaerob yang telah sempurna terfementasi tidak akan menimbulkan bau dan tidak akan menarik lalat untuk datang. Selain itu juga biomassa bisa dicampur dengan berbagai sampah organik untuk menjadi starter dalam pembuatan kompos dengan sistem aerob. Satu bagian biomassa keluaran reaktor biogas bisa dicampur dengan empat bagian sampah organik. Bau kotoran atau sampah akan berkurang, sehingga suasana lingkungan akan terasa lebih nyaman. Berbagai penyakit yang disebabkan oleh serangga vektor pun akan menurun. Pada akhirnya kesehatan para peternak/petani dan lingkungan sekitar akan lebih terpelihara dan kerusakan lingkungan akibat dari penambangan batu bara juga bisa diminimalisir dengan mereklamasi ex tambang untuk pertainan dalam arti luas dari penggunaan limbah biogas untuk memperbaiki struktur tanah yang telah rusak.

Jika dibandingkan dengan bahan bakar nabati lainnya, nilai kalori Biogas sangat tinggi, yaitu sebesar 15.000 KJ/Kg jika dibandingkan dengan arang (7.000 KJ/Kg), kayu (2.400 KJ/Kg) bahkan minyak tanah (8.000 KJ/Kg). Oleh sebab itu, aplikasi penggunaan biogas bisa dikembangkan untuk memasak dan penerangan (menghasilkan listrik).Berdasarkan perhitungan yang dilakukan  berbagai instansi seperti, Unpad, Yayasan Cahaya Keluarga & PT PLN (Persero), jika produksi limbah sapi sebanyak 4.14 M3 limbah/hari maka setara = 1.90 kg LPG = 2.56 liter minyak tanah. Konversi 1 M3 biogas= 0.46 kg LPG = 0.62 liter minyak tanah = 0.80 liter bensin = 3.50 kg kayu bakar.

Pada prinsipnya, pembuatan Biogas sangat sederhana, hanya dengan memasukkan substrat (kotoran ternak) ke dalam digester yang anaerob. Dalam waktu tertentu Biogas akan terbentuk yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi, misalnya untuk kompor gas atau listrik. Penggunaan biodigester dapat membantu pengembangan sistem pertanian dengan mendaur ulang kotoran ternak untuk memproduksi Biogas dan diperoleh hasil samping (by-product) berupa pupuk organik. Selain itu, dengan pemanfaatan biodigester dapat mengurangi emisi gas metan (CH4) yang dihasilkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian dan peternakan, karena kotoran sapi tidak dibiarkan terdekomposisi secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi gas bio.

Bagaimana membuat Biogas dari kotoran sapi?

Sebagaimana telah diterangkan diatas, membuat biogas dengan kotoran sapi cukup mudah. Hanya dengan memasukkan kotoran sapi kedalam digester anaerob, dan mendiamkannya beberapa lama, Biogas akan terbentuk. Hal ini bisa terjadi karena sebenarnya dalam kotoran sapi yang masih segar terdapat bakteri yang akan men-fermentasi kotoran tersebut. Tanpa dimasukkan ke dalam digester pun biogas sebenarnya akan terbentuk pada proses dekomposisi kotoran sapi, namun prosesnya berlangsung lama dan tentu saja biogas yang dihasilkan tidak dapat kita gunakan.

Bagian-bagian pokok digester gas bio adalah:

  1. bak penampung kotoran ternak (saluran inlet),
  2. digester,
  3. bak penampungansisakotoran (saluran outlet),
  4. penampung gas,
  5. pipa gas keluar,
  6. pipa masuk kotoran ternak
  7. pipa keluar kotoranternak,

Ada tiga jenis digester yang telah dikembangkan selama ini, yaitu:

  1. Fixed dome plant (permanen/fiber/cor),
  2. Floating drum plant, dengan tabung plat baja, dan
  3. Plug-flow plant atau balloon plant dengan plastik.
    1. 1.  Fixed dome plant

Gas yang timbul digunakan/dikeluarkan lewat pipa gas yang diberi katup/kran.

Kelebihan: tidak ada bagian yang bergerak, awet (berumur panjang), dibuat di dalam tanah sehingga terlindung dari berbagai cuaca atau gangguan lain dan tidak membutuhkan ruangan (diatas tanah).

Kekurangan: Kadang-kadang timbul kebocoran, karena porositas dan retak-retak, tekanan gasnya berubah-ubah karena tidak ada katup tekanan.

  1. 2.  Floating drum plant

Floating drum plant terdiri dari satu digester dan penampung gas yang bisa bergerak. Penampung gas ini akan bergerak keatas ketika gas bertambah dan turun lagi ketika gas berkurang, seiring dengan penggunaan dan produksi gasnya.

Kelebihan: Tekanan gasnya konstan karena penampung gas yang bergerak mengikuti jumlah gas. Jumlah gas bisa dengan mudah diketahui dengan melihat naik turunya drum.CocokuntukGenset.

Kekurangan: Konstruksi pada drum agak rumit. Biasanya drum terbuat dari logam (besi), sehingga mudah berkarat, akibatnya pada bagian ini tidak begitu awet (sering diganti). Bahkan jika digesternya juga terbuat dari drum logam (besi).

  1. 3.  Baloon plant/Plastik

Kelebihan: biayanya murah, mudah diangkut, konstruksinya sederhana, mudah pemeliharaan dan pengoperasiannya.

Kekurangan: tidak awet, mudah rusak, cara pembuatan harus sangat teliti dan hati-hati (karena bahan mudah rusak), bahan yang memenuhi syarat sulit diperoleh.

Diluar dari kelebihan dan kekurangan dari masing masing jenis instalasi tentunya ini merupakan terobosan yang dapat digunakan sebagai salah satu solusi pemanfaatan energy alternatif. Untuk kompor, lampu dan Genset Biogas pada prinsipnya sama dengan yang digunakan masyarakat saat ini hanya ada sedikit modifikasi pada alat-alat tersebut.

Semoga dengan adanya pengembangan Biogas ini di semua daerah terutama daerah padat populasi ternak sapi dapat menjadi salah satu solusi untuk energy alternatif pengganti BBM, dapat meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat.

1)Disarikan dari berbagai sumber

Pemerhati Energi, Kabupaten Tana Tidung : A.IkhtafulMaskur M, S.Pt


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: