Oleh: kalutnews | 22 Juli 2012

JIKA TIDAK MASALAH KENAPA DIBUAT MASALAH

Disaat sidang isbat berlangsung di Jakarta untuk menentukan masuknya bulan Ramadhan, warga Muhammadiyah telah melakukan sholat tarawih perdana di masjid mushola Muhammadiyah. Tanpa harus menunggu keputusan sang Menteri Agama, Ketua MUI Tarakan yang notabene ulama nahdiyin itu mengucapkan selamat memasuki bulan Ramadhan kepada Ketua Muhammadiyah. Begitu pula Ketua Tanfidz NU yang mengetahui warga Muhammadiyah akan sholat tarawih duluan, langsung mengucapkan selamat kepada Ketua Muhammadiyah. Seakan tidak ada masalah tentang kapan dimulainya Ramadhan. Dan sesungguhnya memang bukan suatu masalah.

Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan hanyalah satu dari sekian perbedaan yang terjadi diantara dua organisasi besar Muhammadiyah-NU. Bahkan usia perbedaan-perbedaan itu sama umurnya dengan usia organisasi Islam itu didirikan oleh pendirinya yakni K.H.Ahmad Dahlan dan K.H.Hasyim Asyari. Kurang lebih satu abad lamanya. Faktanya tidak pernah terjadi konflik horizontal, pertikaian massa, atau tawuran antar kelompok antar warga dalam mempertentangkan perbedaan-perbedaan itu. Secara alamiah perbedaan itu menjadi kesepahaman diantara pengikut dua kelompok tersebut.

Pernah seseorang bertanya, “kenapa zaman dulu tidak ada terjadi perbedaan-perbedaan seperti perbedaan puasa dan perbedaan lebaran ?” Saya katakana, bukan tidak ada perbedaan, tapi zaman dulu belum ada media tv dan koran atau internet sebanyak dan secanggih sekarang ini. Dulu kan, tv nya hanya ada TVRI, dan beritanya pasti bagus-bagus semua, akur-akur semua. Kalau ada yang aneh-aneh pastinya tidak akan disiarkan. Tapi sekarang, jangankan perbedaan antara ibukota dan daerah, perbedaan antar RT pun bisa ditonton sampai ke pelosok-pelosok.

Coba bandingkan dengan perbedaan pandangan politik, antar organisasi politik atau antar tokoh politik antar kepentingan poltik. Negeri ini pun nyaris tercabik-cabik, terbakar dan berdarah-darah.

Alhamdulillah umat Islam semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat. Masing-masing pihak telah sangat memahami dan memaklumi untuk kemudian saling menghargai. Dari kalangan nahdiyin sudah banyak yang memahami tentang teori penetapan 1 Ramadhan dengan cara hisab yang digunakan oleh kelompok Muhammadiyah. Sehingga apa yang ditetapkan oleh Muhammadiyah setiap tahunnya tidak menjadi “barang aneh” yang harus diperdebatkan.

Ketika Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengumumkan penetapan 1 Ramadhan lewat media, tidak serta merta menjadi polemik oleh pihak-pihak lain yang tidak sependapat dengan penetapan itu. Berita di media itu selesai sampai disitu. Bahkan berita keesokan harinya adalah tentang sikap menghargai pendapat itu dari kelompok ulama-ulama NU.
Kalaupun ada komentar-komentar, itu biasalah. Hanya kesan sesaat, setelah itu sudah tak ada masalah. Tidak ada perdebatan apalagi menonjolkan arogansi pendapat atas kebenaran yang diyakini masing-masing pihak. “Berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah dan jangan bercerai berai,” ayat Al Qur’an ini dapat terealisasi dalam meredam potensi perbedaan dikalangan umat Islam.

Dengan itu kita dapat menunaikan peribadatan yang khusyu’. Keharmonisan umat memberikan harapan dan peluang terwujudnya umat Islam yang satu, solid dan terbaik “khoiru ummah”. Kebersamaan akan menjadikan kita umat yang kuat, umat yang bersatu dan militan. Boleh meyakini kebenaran sendiri tanpa harus menyalahkan kebenaran yang diyakini orang lain.

Penulis : Syamsi Sarman, S.Pd . Pimda Muhammadiyah Tarakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: